Bangga Bali, Denpasar – Wisata Religi di Pura Besakih sering kali membawa perasaan takjub yang sulit dijelaskan, seakan kamu diajak masuk ke dunia spiritual yang telah berdiri selama ratusan tahun. Keheningan yang menyelimuti lereng Gunung Agung berpadu dengan aura sakral yang membuat siapa pun merasa sedang berada di pusat energi Bali.
Keagungan pura yang menjulang dan sejarah panjangnya menghadirkan pengalaman yang mampu menyentuh sisi paling dalam dalam diri manusia. Momen inilah yang membuat banyak orang penasaran untuk mengetahui lebih jauh rahasia besar yang tersimpan di balik kompleks suci ini. Untuk mengetahui lebih dalam tentang wisata religi di Pura Besakih ini, yuk lanjut simak di bawah ini!
Sejarah Pura Besakih sebagai Mother of Temple
Berbicara tentang Pura Besakih, kamu sedang membahas pusat spiritual terbesar dan paling di hormati di Bali. Kompleks pura ini berdiri megah di Desa Besakih, Karangasem, tepat di sisi barat Gunung Agung yang di anggap sebagai gunung suci bagi umat Hindu Bali. Statusnya sebagai “Mother of Temple” bukan sekadar sebutan, melainkan representasi dari fungsi Pura Besakih sebagai pusat ritual, pusat energi, dan pusat kehidupan rohani yang menaungi seluruh pura-pura di Bali.
Nama “Besakih” sendiri berasal dari bahasa Sanskerta wasuki atau dalam bahasa Jawa Kuno basuki yang berarti keselamatan. Penamaan ini juga terhubung dengan adanya mitologi Naga Basuki, sosok naga penjaga dan penyeimbang Gunung Mandara sebagai poros kehidupan. Konsep keseimbangan dan keselamatan inilah yang menjadi jiwa dari bangunan pura.
Kompleks Pura Besakih terdiri dari satu pura utama, yaitu Pura Penataran Agung Besakih, serta 18 pura pendamping lainnya, dengan masing-masing memiliki fungsi ritual yang berbeda. Konon, pura ini di bangun pada abad ke-13 oleh Rsi Markandeya, seorang pertapa suci dari India yang di yakini mendapat petunjuk gaib saat bermeditasi di dataran tinggi. Suara gaib itulah yang mengarahkan beliau untuk mendirikan tempat suci di lokasi yang kini di kenal sebagai Pura Besakih.
Makna Bangunan Pura Besakih
Ketika kamu mengelilingi kompleks Pura Besakih, kamu akan menyadari bahwa bangunannya tidak hanya besar, tetapi juga sarat makna filosofis. Arsitektur pura ini di bangun berdasarkan konsep Tri Hita Karana, yaitu pandangan hidup Bali tentang keharmonisan manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam. Bangunan pura di tempatkan berdasarkan arah mata angin dan di bagi menjadi beberapa mandala yang masing-masing di jaga oleh Dewa Catur Lokapala. Beberapa di antaranya:
- Pura Penataran Agung Besakih sebagai pusat mandala, tempat pemujaan Dewa Çiwa.
- Pura Gelap di arah timur tempat pemujaan Dewa Içwara.
- Pura Kiduling Kereteg di arah selatan untuk memuja Dewa Brahmana.
- Pura Ulun Kulkul di arah barat sebagai tempat pemujaan Dewa Mahadewa.
- Pura Batumadeg di arah utara untuk memuja Dewa Wisnu.
Setiap bangunan berdiri sesuai simbolisme sakral yang mencerminkan keseimbangan alam dan spiritual, membuat setiap langkahmu di area pura seolah di ajak bertemu dengan filosofi kehidupan Bali yang begitu dalam.
Rute, Tarif, dan Jam Operasional Pura Besakih
Bagi kamu yang ingin menikmati pengalaman wisata Religi di Pura Besakih, akses ke lokasi ini cukup mudah di tempuh. Pura Besakih berada tak terlalu jauh dari pusat Bali dan perjalanan menuju ke sana akan di temani panorama indah. Harga tiket masuk terbaru mencakup beberapa fasilitas seperti pemandu lokal, peminjaman kain, hingga shuttle buggy ke area lebih dalam pura, berikut rinciannya:
- Tiket domestik: Rp80.000
- Tiket turis asing: Rp150.000
- Pemandu wisata: Rp50.000 – Rp100.000
Shuttle bus juga tersedia untuk lansia, ibu hamil, dan anak-anak secara gratis, sedangkan pengunjung umum bisa menggunakannya dengan tarif sekitar Rp20.000 per sekali antar. Walaupun secara spiritual pura ini buka 24 jam, jam kunjungan untuk wisatawan di batasi pada pukul 08.00 – 17.00 agar tetap menghormati jalannya ritual keagamaan yang mungkin sedang berlangsung.
Aturan Berkunjung di Pura Besakih
Sebagai tempat suci utama umat Hindu Bali, Pura Besakih memiliki aturan yang wajib kamu patuhi demi menjaga kesakralan tempat. Aturan tersebut, yakni:
- Larangan membawa plastik untuk Tirta: Penggunaan plastik sebagai wadah air suci sangat tidak di perbolehkan karena di anggap merusak kesucian Tirta. Hindari plastik sekali pakai seperti kresek, sedotan, dan styrofoam.
- Dilarang membuang sampah sembarangan: Area pura harus selalu di jaga kebersihannya, apalagi banyak bagian kompleks yang masih aktif di gunakan untuk upacara. Pastikan kamu membuang sampah di tempatnya agar lingkungan tetap terjaga.
- Wajib memakai kain dan selendang: Kamu akan di minta mengenakan kain dan selendang saat masuk ke area utama. Tenang saja, perlengkapan ini biasanya sudah termasuk fasilitas tiket atau bisa kamu bawa sendiri.
- Pantangan bagi perempuan yang sedang haid: Perempuan yang sedang datang bulan di larang memasuki area suci utama. Ini merupakan aturan adat yang harus di hormati karena di anggap mempengaruhi kesucian tempat dan kepercayaan masyarakat setempat.
Mengapa Wisata Religi di Pura Besakih Begitu Istimewa?
Pura Besakih bukan sekadar tempat untuk melihat bangunan megah atau berfoto di spot ikonik. Tempat ini menawarkan pengalaman spiritual yang jarang kamu temukan di tempat lain. Udara sejuk pegunungan, pemandangan menuju Gunung Agung, doa-doa para pemangku, hingga arsitektur pura yang berusia ratusan tahun membuatmu merasakan ketenangan yang begitu dalam.
Saat kamu berjalan menaiki tangga pura, pandanganmu akan terbuka pada struktur bertingkat yang memenuhi bukit, seolah menuntunmu menuju ruang spiritual yang lebih tinggi. Ini bukan hanya wisata budaya, tapi juga perjalanan batin yang bisa membuatmu menghargai kembali keseimbangan antara alam dan kehidupan.
Baca juga: Ini Alasan Mengapa Hiking di Bukit Campuhan Bali Selalu Jadi Favorit Wisatawan
Kesimpulan
Jika kamu ingin merasakan kedalaman spiritual dan budaya Bali dalam satu perjalanan, maka wisata Religi di Pura Besakih adalah pilihan terbaik. Tempat ini menawarkan sejarah panjang, makna filosofis, aturan adat yang terjaga, dan suasana yang menenangkan jiwa. Dengan memahami semua unsur tersebut, kunjunganmu ke Pura Besakih akan terasa lebih bermakna dan jauh lebih berkesan. (anm)



Komentar